Rabu, 08 Februari 2017

Membangun Peradaban Dengan Membangun Pendidikan Berkualitas dan Mumpuni


Jangan pernah sekali-kali melupakan sejarah masa lalu, mengapa harus sedemikian rupa? Kita sebagai manusia mesti mengingat bahwasanya kita hidup di masa lalu, masa kini dan masa depan. Masa kini dana masa depan yang sedang dan akan kita lalui tak akan terlepas dari masa lalu. Masa yang saling berkaitan satu sama lain. Kita bisa mengingat kembali pesan dari presiden pertama kita yakni pak Soekarno yang mengatakan: “JAS MERAH yang bermakna jangan sekali-kali melupakan sejarah”.

Khususnya bagi kalangan pemuda-pemudi yang harus dan senatiasa tidak sebatas mempelajari secara teoritis berbagai perkataan atau pesan dari founding father/ pendiri bangsa Indonesia ini di masa lalu. Indonesia era dahulu disegani oleh bangsa-bangsa di luar sana.

Kini masih pula disegani, namun ada juga beberapa hal yang tidak disegani. Sebagai generasi muda Indonesia bisa mewujudkan hal demikian untuk bisa tidak hanya disegani tapi di hormati sebagai bangsa yang besar karena selalu mengingat perkataan atau pesan-pesan yang baik dari para pendiri bangsa ini serta selalu diterapkan dalam segala kesempatan, waktu yang ada untuk membangun Indonesia.

Kini dengan era globaslisasi makin mudahnya budaya, adat istiadat serta berbagai hal lainnya masuk ke Indonesia dan memberi pengaruhnya yang sangat tinggi. Padahal sejak kita lahir kita di didik dan dibentuk oleh keluarga khususnya orang tua kita agar kita bisa menjadi pribadi yang nasionalis, agamis serta sosial/ peduli kemasyarakatan/ kebersamaan. Kita bisa lihat sendiri kini banyak sekali khususnya kalangan muda yang terpengaruh akan budaya asing dengan mudahnya ikut-ikutan bahkan sudah menyerupai budaya asing yang masuk ke Indonesia.


Padahal Indonesia dasarnya memiliki kehidupan yang saling sopan serta santun, juga saling menghargai satu sama lain. Tidak ada yang saling tumpang tindih dalam menjalani kehidupan yang ada saling membangun satu sama lain.



Seperti foto yang saya tampilkan di atas, ini merupakan peristiwa penangkapan pengemis. Yang sebenarnya tidak perlu terjadi di dalam kehidupan bernegara. Bagaimana pun juga mereka merupakan warga negara Indonesia yang berhak mendapatkan kehidupan yang layak sebagaimana kehidupan yang normal kita jalani. Selain negara yang memiliki kapasitas lebih untuk bisa menghilangkan pekerjaan yang tidak layak itu, warga negara lainnya juga berhak untuk ikut andil mengatasi permasalahan pengemis tersebut.

Sudah jelas sekali di dalam setiap ajaran agama apapun tak mengajarakan untuk memurahkan diri dengan menjalani pekerjaan jadi pengemis. Masih banyak pekerjaan yang layak yang bisa dijalani yakni dengan menjadi karyawan, buruh, pedagang atau berbagai macam pekerjaan lainnya yang bisa membuat diri kita menjadi pribadi yang produktif dan tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri namun juga bermanfaat bagi orang banyak. Serta yang tak kalah pentingnya selain diri kita bisa bermanfaat bagi orang lain, kita juga mampu membangun karya nyata yang bisa bermanfaat bagi orang banyak.

Terlebih lagi kota Jakarta yang merupakan kota metropolitan, kota terbesar di Indonesia yang memiliki jaringan bisnis dan jarigan usaha yang terintegrasi dengan baik satu sama lain. Ini merupakan lahan basah yang bisa menghasilkan tak hanya uang, namun juga bisa menghasilkan pertemanan, rekan bisnis, atau berbagai hal lainnya yang bsa mempercepat akselerasi keinginan-keinginan kita untuk bisa jalani hidup menjadi pribadi yang produktif serta bermanfaat bagi sesama manusia.



Permasalahan pengemis tak hanya menjadi pusat perhatian pemerintah pusat, namun juga menjadi pusat perhatian dunia. Dunia yang semakin hari memiliki masalah yang semakin hari semakin kompleks yang semakin berkembang dengan pesat. Lagi-lagi solusi yang sangat tepat untuk dapat merubah pribadi seseorang, mengubah situasi dan kondisi kehidupan kesemuanya berawal dari membangun pendidikan.

Pendidikan yang seperti apakah yang bisa mewujudkan itu semua?

Tentunya pendidikan yang tidak hanya mumpuni, namun pendidikan yang berkualitas dalam segala hal. Baik dari segi manajemen, dalam segi pengajaran, kurikulum, civitas akademika yang profesional serta berbagai macam komponen lainnya yang bisa mendukung sistem pendidikan yang tertata yang mampu menciptakan produk berupa anak didik yang tidak hanya pintar, namun juga cerdas dan berakhlakul karimah seperti yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Di Indonesia salah satu sarana yang bisa mewujudkannya ialah Pondok Pesantren Ma’had Al-Zaytun. Pondok pesantren yang berdiri dengan adanya sarana pendidikan mulai dari tingkat PAUD hingga tingkat S-1, bahkan tahun 2017 ini kampus Al-Zayutun yang bernama lengkap IAI AL AZIS akan membuka kelas S-2 dengan beberapa fakultas dan beberapa prodi/ program studi. Memang kampus yang terletak di dalam Ma’had Al-Zaytun ini baru beberapa tahun berdiri tepatnya semenjak tanggal 12-12-2012.

Hari demi hari kampus IAI AL-AZIS berbenah diri mulai dari intern hingga skala ekstern. Pembenahan intern yakni dengan adanya perekrutan dosen-dosen serta mahasiswa yang terlihat semakin nyata. Mahasiswa yang mendaftar dari tiap angkatan semakin bertambah. Begitu pula perekrutan dosen-dosen yang memiliki kapasitas di bidangnya, semakin bertambah. Bahkan beberapa hari yang lalu sempat di lakukan peresmian pembangunan RKB atau Ruang Kelas Baru yang terletak di lantai 5 kampus IAI AL-AZIS. Peresmian RKB di resmikan oleh ketua Yayasan Pesantren Indonesia Ma’had Al-Zaytun yakni oleh bapak Imam Prawoto.

RKB dibangun dari bantuan Pemprov Jabar yakni langsung dari Gubernur Jabar bapak Ahmad Heryawan. Pemprov Jabar memberikan bantuan pendidikan bagi pembangunan RKB sekaligus berkeinginan untuk bisa mewujudkan RKB dalam waktu 4 bulan dengan 3 RKB, namun dalam pidato sambutannya pak Imam Prawoto menyanggupi untuk bisa menyelesaikan RKB dengan 4 ruang kelas jadi dalam waktu 3 bulan saja.Pembangunan RKB ini selain melibatkan para eksponen, civitas akademika, karyawan juga melibatkan peran serta masyarakat sekitar kampus IAI AL-AZIS.

Ini di lakukan semata-mata dalam rangka membangun kebersamaan dalam membangun pendidikan. Pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, peranan swasta dan juga masyarakat juga sangat dibutuhkan untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas.

  






Tidak ada komentar:

Posting Komentar